KAJIAN WILAYAH
1. Perencanaan
dan kajian wilayah
a.
Pengertian
dan keterkaitannya
Ø Pengertian
Perencanaan wilayah
merupakan perencanaan penggunaan ruang wilayah dan perencanaan aktivitas pada
ruang tersebut yang mencakup kegiatan perencanaan tata ruang. Perencanaan
wilayah adalah menetapkan suatu tujuan yang dapat dicapai setelah memperhatikan
faktor-faktor pembatas dalam mencapai tujuan, memilih dan menetapkan
langkah-langkah untuk mencapai tujuan. Perencanaan merupakan kegiatan yang
sangat kompleks, rumit, lebih menekankan pada teknis dan luas cakupannya.
Kajian wilayah merupakan
kegiatan mengumpulkan informasi/mengkaji suatu wilayah yang dapat kita lakukan
dengan menganalisis dan menggali informasi melalui unsur-unsur esensial wilayahnya.
Ø Keterkaitan
Kajian
wilayah merupakan aktivitas dalam mengkaji suatu wilayah dilihat dari
unsur-unsur esensial di dalamnya. Informasi ini yang nantinya akan sangat
menentukan jalannya suatu perencanaan pembangunan wilayah. Semakin banyak unsur
esensial wilayah yang dikaji, maka akan semakin banyak informasi yang
didapatkan mengenai kelemahan maupun kelebihan suatu wilayah. Dari sini dapat
ditentukan strategi perencanaan yang tepat bagi wilayah tersebut dan
pembagunan/pengembangan seperti apa yang menunjang wilayah itu.
b.
Kesamaan
dan perbedaannya
Kesamaan perencanaan
dan kajian wilayah:
Ø Memiliki
objek kajian yang sama yakni wilayah
Ø Memberikan
kontribusi nyata dalam mengembangkan suatu wilayah dengan memperhatikan
aspek-aspek dalam wilayah tersebut
Ø Tujuannya
sama yaitu dalam rangka mengembangkan wilayah tersebut dilihat dari kelemahan
maupun kelebihannya.
Perbedaan perencanaan
dan kajian wilayah:
Ø Perencanaan
wilayah adalah menetapkan suatu tujuan yang dapat dicapai setelah memperhatikan
faktor-faktor pembatas dalam mencapai tujuan, memilih dan menetapkan
langkah-langkah untuk mencapai tujuan. Perencanaan merupakan kegiatan yang
sangat kompleks, rumit, lebih menekankan pada teknis dan luas cakupannya.
Dengan perencanaan akan diperoleh informasi yang lebih akurat, karena tidak
hanya informasi wilayah yang digali namun juga informasi sosial terkait
masyarakat dalam ruang wilayah tersebut.
Ø Sedangkan
kajian wilayah hanya memberikan gambaran kecil mengenai unsur esensial suatu
wilayah. Informasi yang digali dalam suatu wilayah hanya seputar unsur esensial
itu.
Ø Kajian
wilayah merupakan salah satu langkah/bagian dari perencanaan. Suatu perencanaan
pembangunan wilayah tidak terlepas dari pengkajian wilayah itu sendiri.
c.
Teori
dan faham kajian wilayah
Teori kajian wilayah
meliputi:
1. Teori
Lokasi Von Thunen
Teori
Von Thunen berusaha menghubungkan antara konsep ekonomi dengan lokasi spasial.
Konsep yang digagas Von Thunen mengilustrasikan suatu kota yang berada dipusat
dataran yang subur yang ditengahnya terdapat sungai. Dataran tersebut memiliki
kondisi tanah yang dapat ditanami serta memiliki kesamaan kesuburan. Semakin
jauh dari wilayah perkotaan, dataran yang terlihat ialah hutan belantara yang
memutus hubungan Negara kota ini berada dengan dunia luar.
Garis besar
asumsi-asumsi yang dibuat oleh Von Thunen :
a.) Pusat
kota sebagai kota pemasaran, lokasi di pusat suatu wilayah homogen secara
geografis, bagian pusat digambarkan sebagai pusat pemukiman, pusat industri dan
sekaligus pusat pasar.
b.) Biaya
transportasi berbanding lurus dengan jarak yang ditempuh. Setiap petani di
kawasan sekeliling kota akan menjual kelebihan hasil pertanian ke kota
tersebut, dan biaya transportasi ditanggung sendiri.
c.) Petani
secara rasional cenderung memilih jenis tanaman yang menghasilkan keuntungan
maksimal.
Pola
Penggunaan Lahan dari Von Thunen
Semakin
jauh dari kota, lahan secara progresif memproduksi barang dengan biaya
transportasi murah dibandingkan dengan lainnya. Dengan alasan tersebut
terbentuk lingkaran-lingkaran konsentrik di sekililing kota dengan produk
pertanian utama tertentu. Setiap lingkaran produk pertanian, sistem
pertaniannya akan berubah, dan pada berbagai lingkaran akan ditemukan sistem
pertanian yang berbeda.
Kesimpulan
penting yang dapat diambil dari pengembangan teori Von Thunen adalah : (1)
kecenderungan semakin menurunnya keuntungan akibat makin jauhnya lokasi
produksi dari pasar, namun terdapat perbedaan laju penurunan (gradien) antar komoditas, dan (2) Jumlah
pilihan-pilihan menguntungkan yang semakin menurun dengan bertambahnya jarak ke
kota atau pusat pasar.
2. Teori
Lokasi Burges (1925)
Sebuah model skematis
yang dikembangkan dalam mengelompokkan aktivitas-aktivitas atas dasar
konsentrasi dalam jarak yang berturut-turut dalam kawasan dari pusat ke arah hinterland. Hipotesis Burges menyatakan bahwa zona-zona
penggunaan lahan akan menjaga keteraturan, tetapi karena kota tumbuh dan
berkembang maka setiap zone harus menyebar dan bergerak keluar, menggeser zona
berikutnya dan menciptakan zone transisi penggunaan tanah.
3. Teori
Lokasi Harvey (1996)
Teori pembangunan
aksial atau radial, dikembangkan oleh Harvey merupakan sebuah peningkatan dalam
memodifikasi zone konsentrasi untuk mengikuti pola topografi. Sungai-sungai
yang dapat dilayari menyediakan bentuk paling mudah dari transportasi air,
sedangkan desa-desa memfasilitasi konstruksi jalan dan rel. Hal ini berarti
biaya transportasi per unit lebih rendah dalam beberapa arah dari yang lainnya.
Yang lebih realistik konstruksi jalan dan rel akan menyebabkan zone-zone
berbentuk bintang laut, sampai pelosok-pelosok yang meluas sepanjang rute
transportasi utama. Jadi meskipun A dan B berbeda jarak dari pusat, mereka akan
menggambarkan penggunaan tanah yang sama berdasarkan waktu tempuh yang sama
dari pusat.
4. Teori
Lokasi Christaller (1993)
Lokasi pusat (central place) merupakan suatu tempat
dimana sejumlah produsen cenderung mengelompok di lokasi tersebut untuk
menyediakan barang dan jasa bagi populasi disekitarnya. Lokasi pusat tertata
dalam suatu pola yang vertikal maupun horizontal. Kepentingan relative lokasi
pusat tergantung pada jumlah dan order barang dan jasa yang disediakan. Cristaller
berpendapat bahwa sistem lokasi pusat membentuk suatu hierarki tersebut
didasarkan atas prinsip bahwa suatu tempat menyediakan tidak hanya barang dan
jasa untuk tingkatannya sendiri tetapi juga semua barang dan jasa lain yang
ordernya rendah seperti Model Christaller mencerminkan suatu hubungan tetap
antara setiap level dalam hierarki. Sistem lokasi pusat ditentukan secara
bertahap sesuai dengan dua prinsip dasar. Pertama, semua hamparan wilayah
disuplai barang-barang dari sejumlah pusat-pusat tertentu. Kedua, suatu lokasi
pusat dengan range tertentu
menyediakan barang dan jasa sesuai dengan rangenya dan semua barang dan jasa
dari order yang lebih rendah.
5. Teori
Lokasi Pendekatan Losch
Menurut Losch tidak ada
alasan mengapa daerah pasar dikaitkan dengan pusat-pusat produksi dan bersifat
kaku seperti yang diungkapkan Christaller. Losch menyadari bahwa model hasil
yang dikembangkan kurang efisien dikarenakan sulitnya mengkombinasikan jaringan
daerah pasar untuk pembentukkan struktur spasial yang efisien bagi produsen
ataupun konsumen.
Model pengaturan
spasial pusat kota menurut Losch konsisten terhadap unsur dasar organisasi
manusia yakni prinsip usaha minimal. Usaha tersebut dilakukan dengan cara
memaksimalkan jumlah perusahaan yang beroperasi di dalam pasar serta
meminimalkan biaya transportasi secara keseluruhan. Skema hierarki Christaller
terdiri dari serangkaian tingkatan distrik dimana satu pusat menghasilkan
campuran barang-barang yang sama dengan pusat lain pada tingkatan hierarki yang
sama. Skema Losch membiarkan terjadinya spesialisasi produksi di central place sedangkan Christaller
tidak demikian, kecuali jika tingkat hierarki dibedakan oleh barang berhierarki
spesifik. Ada dua konsekuensi dari model
landscape Losch, yakni yang berhubungan dengan pengaturan sektoral pada
pergerakan yang berimplikasi terhadap distribusi populasi.
6. Teori
Sistem Lokasi Pusat (Central Place)
Dengan mempertimbangkan
keputusan logis individu untuk menjual barang kepada pihak lain, telah
dikembangkan logika yang sama untuk memahami hal-hal yang penting dan menarik
tentang organisasi spasial lokasi pusat dalam landscape sederhana. Berdasarkan variabel jarak saja dapat
dihasilkan jaringan hierarki lokasi pusat yang kompleks di atas isotropic land. Obyek dari sistem ini (market areal atau daerah pasar dan
rumah tangga yang terdistribusi sama) dihubungkan bersama-sama oleh aliran
barang dan penerimaan tunai seperti halnya permintaan dan penawaran yang di
hubungkan oleh pertukaran. Kekuatan dinamis sistem ini menyebabkan strukturnya
sendiri merupakan proses pertukaran berputar (siklus) dimana input uang (
permintaan) dari koperasi yang tersebar di transformasikan ke dalam output
barang-barang dan jasa dari sub sistem produksi individu yang di hasilkan di
lokasi pusat. Proses pertukaran ini baik sub sistem produksi individu maupun
agregrat tergantung dari ketahanannya. Pertukaran menghasilkan suatu pola
spasial karena perbedaan lokasi antara titik permintaan dan penawaran. Dalam
pergerakan menuju lokasi pusat untuk mempertukarkan pendapatan dengan barang
dan jasa, seorang konsumen harus menghabiskan sumber daya yang langka
(uang,watu,fisik, dan energi) untuk mengatasi friksi jarak ini. Pada jarak
tertentu dari titik penawaran, pengeluaran menjadi begitu tinggi yang apabila
di tambahkan kepada harga yang harus di bayar akan menurunkan permintaan
menjadi nol. Pada jarak itulah proses pertukaran berhenti karena tidak adanya
permintaan.
Kisaran spasial dariproses tersebut beragam tergantung ordernya.
Oleh karena itu bentuk dan struktur dari lokasi pusat keseluruhanya tergantung
pada keragaman sistematis dari tinggi rendahnya kisaran spasial dari proses
pertukaran tersebut. Struktur hierarki yang di bangun dalam pembahasan ini
menampilkan kondis kekokohan (steady state) dari sitem lokasi pusat yaitu
kondisi keseimbangan dinamis dimana organisasi fungsional dapat mencapai
keseimbangan input dan output secara alamiah. Dengan kata lain permintaan
penduduk dapat di penuhi secara efisien
7. Hirarki
dan Pergerakan Konsumen ke Lokasi Pusat
Menurut teori lokasi pusat dalam
memenuhi kebutuhan barang dan jasa konsumen bergerak menuju pusat terdekat.
Begitu juga halnya dengan pergerakan barang. Barang berorder lebih rendah yang
dihasilkan oleh sejumlah pusat berorder rendah cenderung bergerak dengan jarak
tempuh pendek, sedangkan pergerakan barang berorder lebih tinggi dicirikan
dengan jarak yang lebih panjang. Dengan kata lain, jarak yang ditempuh untuk
memperoleh barang-barang di lokasi pusat berhubungan langsung dengan order
barang.
Teori ini dapat diuji dengan membuat
peta perilaku konsumen dalam ruang. Untuk setiap jenis barang dibuat garis yang
menghubungkan lokasi konsumen dengan lokasi pusat yang disebut sebagai Desire Line (garis keiinginan). Pola
perilaku konsumen terhadap barang berorder lebih rendah akan menunjukkan garis Desire line pendek yang terpusat pada
tempat-tempat kecil yang banyak jumlahnya. Pola perilaku konsumen terhadap
barang yang berorder lebih tinggi akan menunjukkan banyaknya garis (desire line) yang lebih panjang dan
mengumpul pada pusat yang lebih besar dan berjumlah sedikit.
Paham kajian wilayah
meliputi:
1. Konsep
Landschaft menurut Hettner
Landschaft merupakan
bagian permukaan bumi yang memberikan gambaran individualitas tersendiri dan
meliputi bentuk keadaan alamnya beserta isinya yang terdiri atas :
a.) Tumbuh-tumbuhan
b.) Hewan
c.) Manusia
yang menghuninya
Paham ini menjadi dasar
bagi kajian wilayah di muka bumi. Hettner memandang bahwa tugas utama geografi
ialah membuat pelukisan, deskripsi, kajian wilayah tentang muka bumi, yang
meliputi lingkungan fisik, lingkungan manusia, serta gejala dan sifat muka
bumi. Dalam menjelaskan kajian wilayah Hettner menggunakan bagan yang dikenal
dengan sebutan bagan Hettner yakni urutan unsur-unsur yang harus dipelajari
dalam mengkaji wilayah sebagai berikut :
a.) Letak
b.) Luas
c.) Perlikuan
horizontal
d.) Perilaku
vertical
e.) Susunan
geologi
f.) Geomorfologi
g.) Keadaan
agro geografi
h.) Iklim
i.) Gejala
irigasi
j.) Vegetasi
k.) Hewan
l.) Manusia
2. Pandangan
menurut Vidal de Blache
Vidal (ahli geografi
budaya) mengemukakan teori “life style” dalam konsep genre de vie yang berarti gaya hidup dan cara hidup. Dalam
mengkaji wilayah-wilayah geografi adalah keragaman genre de vie yang ciri - cirinya
ditentukan oleh :
a. Tingkat
peradaban.
b. Kemungkinan-kemungkinan
alam.
c. Pengaruh
keduanya.
Dalam
perkembangannya manusia dengan peradabannya memilih dan menentukan corak
kehidupan dari kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh lingkungan alamnya.
Bentuk keragaman genre de vie merupakan hasil kegiatan manusia dalam usaha
kesejahteraan di muka bumi.
Pandangan
Vidal ada beberapa faktor yang berpengaruh yakni :
a. Sosial
b. Sejarah
c. Kejiwaan
d. Alam
3. Pandangan
Wilayah menurut Hartshorne
Richard Hartshome dalam
bukunya the natural of Geography yang mengkaji wilayah Amerika yang memisahkan
antara aspek fisik dan aspek manusia. Dalam perkembangan selanjutnya terjadi
pembagian mengenai kajian wilayah yaitu secara umum (regional) dan khusus
(topikal). Hartshorne berpendapat bahwa kedua aspek baik fisik maupun sosial
tidak dapat dipisahkan karena pemisahan hanya akan menimbulkan ketidakselarasan
serta mengacaukan gagasan. Hartshorne berasumsi bahwa studi wilayah (geografi)
adalah deferensiasi areal muka bumi atau keanekaragaman bentang alam di muka
bumi yang masing-masig memiliki karakteristik yang bisa sama atau berbeda.
2. Tipe
wilayah
a.
Uraikan
slide no 128, 129
1. Uniform
region (wilayah formal) atau region statis yaitu region yang dibentuk oleh
adanya kesamaan (homogenitas) kenampakan, termasuk iklim, vegetasi, tanah,
landform, pertanian atau penggunaan lahan.
Wilayah formal
dicirikan oleh sesuatu yang dimiliki atau melekat pada manusia dan alam secara
umum. Ada beberapa keterbatasan teknis yang akan dihadapi di lapangan ketika
konsep wilayah homogen digunakan sebagai pijakan pendeskripsian analisis atau
pengelolaan. Secara ekologis, wilayah homogen tidak stabil dan sering
berhimpitan dengan wilayah administrative. Secara teknis kuantitatif
identifikasi wilayah homogen dapat dilakukan berdasarkan data faktor-faktor
penciri keragaan wilayah dengan menggunakan teknik analisis gerombol yakni
dengan melakukan pengelompokkan unit-unit data spasial ke dalam kelompok-kelompok
spasial yang kemudian disebut wilayah-wilayah homogen.
2. Nodal
region (wilayah fungsional) adalah suatu wilayah yang diatur oleh beberapa
pusat kegiatan yang dihubungkan melalui garis melingkar yang secara fungsional
mempunyai ketergantungan antara pusat dan daerah belakangnya. Wilayah ini
muncul pada dasarnya dilandasi oleh adanya faktor ketidakmerataan atau faktor
heterogenitas tetapi saling berhubungan erat satu sama lain. Hubungan antar
pusat kegiatan pada umumnya dicirikan dengan adanya arus transportasi dan
komunikasi yang pada akhirnya menunjang pertumbuhan dan perkembangan dari
setiap wilayah tersebut.
Pusat wilayah berfungsi
sebagai: 1) tempat terkonsentrasinya penduduk/pemukiman; 2) pusat pelayanan terhadap daerah hinterland;
3) pasar bagi komoditas-komoditas pertanian maupun industri; 4) lokasi
pemusatan industri manufaktur yakni kegiatan mengorganisasikan faktor-faktor
produksi untuk menghasilkan suatu output tertentu.
Hinterland berfungsi
sebagai: 1) pemasok (produsen) bahan-bahan mentah dan atau bahan baku; 2) pemasok
tenaga kerja melalui proses urbanisasi dan commuting (menglaju); 3) daerah pemasaran
barang dan jasa industri manufaktur; 4) penjaga keseimbangan ekologis.
Ada empat unsur
essensial dalam struktur regional nodal yaitu:
a. Adanya
arus barang, ide/gagasan dan manusia
b. Adanya
node/pusat yang menjadi pusat pertemuan arus tersebut secara terorganisir
c. Adanya
wilayah yang makin meluas
d. Adanya
jejaring rute tempat tukar menukar berlangsung.
3. Generic
region (wilayah berdasarkan jenisnya)
Adalah wilayah yang
diklasifikasikan berdasarkan jenisnya (fungsi wilayah diabaikan). Penggolongan
wilayah ini didasarkan pada kenampakan jenis tertentu.
4. Specific
region (wilayah khusus) yaitu wilayah berdasarkan kekhususan sehingga merupakan
daerah tunggal yang mempunyai ciri-ciri tersendiri.
5. Wilayah
administrative adalah wilayah yang batas-batasnya ditentukan berdasarkan
kepentingan administrasi pemerintahan atau politik yang memiliki landasan
yuridis-politis paling kuat.
6. Wilayah
perencanaan dipandang sebagai wilayah yang memperlihatkan koherensi atau
kesatuan keputusan-keputusan ekonomi (Boudeville, Glasson: 1978). Wilayah
perencanaan bukan hanya dari aspek fisik dan ekonomi, namun ada juga dari aspek
ekologis.
Perwilayahan komoditas
adalah contoh penetapan wilayah perencanaan/pengelolaan yang berbasis pada
unit-unit wilayah homogen.
b.
Jelaskan
dasar pembagiannya
Keragaman dalam
mendefinisikan konsep wilayah terjadi karena perbedaan dalam permasalahan
ataupun tujuan pengembangan wilayah yang dihadapi. Konsep wilayah paling klasik
(Richardson,1969; Hagget,Cliff dan Frey,1977) mengenai tipologi wilayah,
membagi wilayah menjadi tiga kategori: (1) wilayah homogen; (2) wilayah nodal;
dan (3) wilayah perencanaan.
Cara klasifikasi konsep
wilayah diatas ternyata kurang mampu menjelaskan keragaman konsep wilayah yang
ada. Sehingga muncul konsep dari Blair (1991), menurutnya klasifikasi konsep
wilayah yang lebih mampu menjelaskan berbagai konsep wilayah yang selama ini
dikenal adalah: (1) wilayah homogen, (2) wilayah sistem/fungsional, dan (3)
wilayah perencanaan. Dalam kelompok konsep wilayah perencanaan, terdapat konsep
wilayah administrative-politis dan wilayah perencanaan fungsional.
c.
Maksud
slide 196
Pembatasan (demarkasi)
suatu wilayah seringkali dilakukan berdasarkan adanya korelasi yang kuat dari
bagian-bagian (baik fisik maupun non fisik) yang membentuk wilayah tersebut
maksudnya adalah yang paling utama dari pembatasan (demarkasi) wilayah tersebut
yaitu kebermaknaan untuk tujuan-tujuan yang dikehendaki. Proses
pengelompokan (aggregation) ke dalam wilayah-wilayah akan bermanfaat untuk
membuat suatu deskripsi, akibat harus ditangani serta dipahaminya pemisahan dan
pengelompokkan data lainnya yang lebih kecil. Jadi untuk berbagai tujuan,
jumlah keseluruhan dan rata-rata dari suatu wilayah sensus dan wilayah kecil
akan bersifat lebih informatif, mudah ditangani serta disajikan daripada hanya
merupakan tumpukan hasil sensus belaka, terutama jika seseorang telah terlibat
langsung didalamnya.
Dengan kata lain bahwa proses
pengelompokkan di atas akan bersifat ekonomis untuk suatu analisis informative,
khususnya akan menjadi penting jika terdapat sejumlah data dan informasi saling
menunjukkan ketergantungan antara unit-unit atau kegiatan¬kegiatan dengan
wilayah. Sehingga suatu keutuhan yang sebenarnya akan mendekati jumlah dari
masing-masing bagian yang terdapat didalamnya.
Dapat dikatakan juga bahwa proses pengelompokan untuk demarkasi suatu wilayah tertentu sangat diperlukan untuk tujuan administrasi dan formulasi, serta untuk melengkapi rencana-rencana dan kebijaksanaan negara (public policy). Berdasarkan titik tolak ini pengelompokan wilayah yang paling bermanfaat seringkali dilakukan dengan mengikuti batasan-batasan dari kekuasaan administratif. Untuk menentukan batas-batas wilayah (demarkasi wilayah) banyak sekali cara yang dapat digunakan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, atau dapat juga dengan generalisasi maupun klasifikasi, atau gabungan dari keduanya.
Dapat dikatakan juga bahwa proses pengelompokan untuk demarkasi suatu wilayah tertentu sangat diperlukan untuk tujuan administrasi dan formulasi, serta untuk melengkapi rencana-rencana dan kebijaksanaan negara (public policy). Berdasarkan titik tolak ini pengelompokan wilayah yang paling bermanfaat seringkali dilakukan dengan mengikuti batasan-batasan dari kekuasaan administratif. Untuk menentukan batas-batas wilayah (demarkasi wilayah) banyak sekali cara yang dapat digunakan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, atau dapat juga dengan generalisasi maupun klasifikasi, atau gabungan dari keduanya.
Dalam menyoroti arti dan eksistensi
wilayah berdasarkan tipenya, kita akan bertitik tolak pada konsepsi homogenitas
dan heterogenitas. Dalam hal ini yang penting adalah keseragaman dari
faktor-faktor pembentuk yang ada dalam wilayah itu, baik secara sendiri-sendiri
(individual) maupun gabungan dari beberapa unsur. Mengingat konsepsi tersebut
tidak semudah yang tertulis dalam teori, serta mengingat kesukaran-kesukaran
tentang deliniasi (pembatasan)-nya, maka kemudian timbul konsepsi wilayah inti
(core region).
Oleh karenanya, sering pula muncul
wilayah perencanaan atau administrasi, yang sebenarnya merupakan penggabungan
dari konsep-konsep tersebut di atas.
Pada dasarnya, wilayah administrasi
atau wilayah perencanaan adalah wilayah yang menjadi ajang penerapan
keputusan-keputusan ekonomi. Region ini umumnya dibatasi oleh kenyataan bahwa
unit wilayah berada didalam kesatuan kebijakan atau administrasi. Walaupun
perencanaan sifatnya tertentu (tetap), adakalanya pembagian pembatasannya
dianggap kurang baik jika tidak selaras dengan pembatasan ekonomi alamiah.
Dalam pada itu, wilayah adninistrasi seringkali dapat dianggap sebagai wilayah
yang menguntungkan demarkasinya jika dikaitkan dengan kebutuhan untuk
pengmbilan keputusan yang dikehendaki dalam perencanaan.
3. Unsur
essensial kajian wilayah
a.
Mengapa
menjadi penting dalam suatu kajian wilayah (beri alasan masing-masing unsur)
Sebelum kita mengkaji
suatu wilayah kita harus tahu tujuan awal dari pengkajian tersebut terhadap
wilayah itu. Semua unsur esensial perlu dikaji agar dampak negative dapat di
minimalkan. Dalam kajian wilayah unsur esensial menjadi sangat penting dan
diperlukan karena semakin banyak unsur esensial yang kita kaji semakin membantu
kita untuk mngetahui kelemahan dan kelebihan dari wilayah tersebut. Sehingga akan
lebih mudah dalam menentukan strategi yang tepat dan yang cocok diterapkan di
wilayah tersebut dalam rangka pengembangannya.
b.
Kapan
unsur-unsur tersebut dapat digabung dan kapan bisa berdiri sendiri
Dalam mengkaji suatu
wilayah, unsur-unsur esensial menjadi hal yang sangat diperlukan. Karena
melalui unsur-unsur ini akan didapatkan informasi yang lebih akurat. Informasi
yang akurat akan didapatkan jika kita mengkaji semua unsur-unsur esensial tersebut
dan mengintegrasikannya satu sama lain. Karena pada dasarnya semua unsur esensial
saling berkaitan dan sulit dipisahkan. Namun ada kalanya unsur-unsur esensial
itu dapat berdiri sendiri.
Dalam hal ini yang penting adalah
keseragaman dari faktor-faktor pembentuk yang ada dalam wilayah itu, baik
secara sendiri-sendiri (individual) maupun gabungan dari beberapa unsur.
Mengingat konsepsi tersebut tidak semudah yang tertulis dalam teori, serta
mengingat kesukaran-kesukaran tentang deliniasi (pembatasan)-nya, maka kemudian
timbul konsepsi wilayah inti (core region).
Pembatasan suatu wilayah sehingga timbul wilayah inti merupakan contoh hasil dari unsur esensial yang berdiri sendiri. Wilayah inti merupakan wilayah yang menjadi pusat dari wilayah-wilayah lain karena adanya salah satu unsur esensial yang menonjol dibandingkan dengan wilayah lain. Contoh kota Yogyakarta yang menjadi pusat pendidikan, unsur esensial budayanya muncul dan sangat mempengaruhi kota-kota disekitarnya.
Pembatasan suatu wilayah sehingga timbul wilayah inti merupakan contoh hasil dari unsur esensial yang berdiri sendiri. Wilayah inti merupakan wilayah yang menjadi pusat dari wilayah-wilayah lain karena adanya salah satu unsur esensial yang menonjol dibandingkan dengan wilayah lain. Contoh kota Yogyakarta yang menjadi pusat pendidikan, unsur esensial budayanya muncul dan sangat mempengaruhi kota-kota disekitarnya.
c.
Jelaskan
slide no 252, yang sempat anda pelajari.
Unsur esensial dalam
kajian wilayah meliputi:
1. Letak
atau lokasi, merupakan unsur terpenting dalam kajian keruangan dimuka bumi
(wilayah). Ada dua letak yang sering dipakai, yaitu:
a. Letak
fisik, terdiri atas :
·
Letak astronomi (absolut), yaitu letak
yang mendasarkan kedudukan suatu tempat muka bumi yang bulat menurut garis
lintang dan garis bujur. Letak astronomi dasar penentuannya adalah hasil
pengamatan posisi suatu tempat terhadap benda langit bintang atau matahari.
Letak ini berpengaruh pada kondisi geografis suatu tempat atau wilayah.
·
Letak geografis (relative), merupakan
letak atau kedudukan suatu tempat atau wilayah dalam hubungannya dengan keadaan
atau kondisi lingkungan disekitarnya. Letak ini bisa berubah sesuai dengan
perubahan kondisi lingkungan sekitar.
2. Luas
wilayah
Luas wilayah yang besar
akan memberikan potensi yang besar baik sumber daya alamnya maupun manusianya.
Wilayah yang sempit biasanya sumber daya alam dan manusianya juga sedikit. Namun
wilayah yang luas juga tidak lepas dari masalah manusianya dalam mengelola
sumber daya tersebut. Masalah perbatasan dan keamanan wilayah itu juga semakin
kompleks.
3. Bentuk
wilayah dapat dibedakan atas bentuk wilayah kompak, memanjang, menjorok,
terpecah, berada didalam wilayah lain dan sebagainya. Bentuk wilayah ini
memungkinkan persebaran penduduk serta pola pemukiman penduduk diwilayah
tersebut.
4. Relief
adalah bentuk vertikal suatu wilayah yang sangat berpengaruh terhadap iklim,
kemiringan, perkembangan wilayah, budaya, dan masih banyak aspek kehidupan yang
terpengaruh juga.
5. Iklim,
antara satu wilayah dengan wilayah lain tentu memiliki iklim yang berbeda. Hal
ini disebabkan oleh letak geografis yang berbeda, indonesia merupakan negara
dengan iklim tropis yang berakibat pada banyaknya hujan, lebatnya hutan, temperatur
kelembapan tinggi, dan masih banyak akibat lain yang ditimbulkannya.
6. Geologi,
mendasarkan pada struktur geologi/lapisan bumi dalam kaitannya dengan keadaan
lingkungan secara keseluruhan. Secara geologis, indonesia dilalui oleh dua
jalur pegunungan muda dunia yaitu pegunungan mediterania di barat dan
pegunungan sirkum pasifik di timur. Akibatnya indonesia memiliki banyak gunung
berapi aktif dan rawan gempa bumi. Kajian wilayah indonesia juga tidak bisa
lepas dari negara lain yang turut membawa pengaruh terhadap kondisi geologinya.
7. Geomorfologi
Merupakan bentuk
permukaan bumi yang menunjang dalam kajian wilayah yang menentukan kondisi
tanah suatu wilayah. Lapisan tanah menentukan subur tidaknya tanah tersebut. Hal
ini akan berpengaruh terhadap mata pencaharian penduduk sekitar serta
perkembangan perekonomiannya.
8. Sejarah,
latar belakang suatu wilayah menjadi sangat penting ketika pengkajian wilayah.
Dari sejarah kita akan tahu bagaimana perkembangan wilayah tersebut dalam kurun
waktu tertentu. Dengan demikian akan memudahkan dalam pemecahan suata masalah
yang ada atau muncul dalam wilayah tersebut. Pengkajian juga akan semakin baik dengan
berkaca pada sejarah dahulu di wilayah tersebut.
9. Penduduk
menjadi hal yang penting dalam suatu wilayah. Karena dengan adanya penduduk
wilayah tersebut akan berkembang dan menjadi cikal bakal kehidupan wilayah itu
sendiri.
10. Budaya
adalah hasil karya cipta, rasa, dan karsa manusia yang dikembangkan dan
diwariskan kepada generasi berikutnya. Budaya suatu wilayah berkaitan dengan
letak wilayah tersebut terhadap wilayah lainnya. Semakin dekat suatu wilayah
dengan wilayah lain maka besar kemungkinan adanya akulturasi budaya diantara
penduduknya.
11. Mata
pencaharian, kajian suatu wilayah dilakukan berdasarkan kehidupan ekonomi yang
dilakukan oleh wilayah tersebut. Hal-hal yang biasanya dikaji meliputi potensi
sekitar di wilayah tersebut, sarana dan prasarana, alat komunikasi yang
tersedia, latar belakang wilayah, dan sebagainya. Pengkajian berdasarkan mata
pencaharian sangat bermanfaat bagi kelanjutan wilayah tersebut nantinya.
12. Potensi
suatu wilayah tergantung pada unsur-unsur yang telah dipaparkan sebelumnya.
Antara wilayah satu dengan lainnya memiliki potensi yang berbeda karena
sejarahnya juga berbeda, namun letak suatu wilayah menjadikan wilayah tersebut
merasa saling membutuhkan satu sama lain sehingga memungkinkan untuk saling
berinteraksi.
13. Permasalahan
utama suatu wilayah berbeda. Semakin luas wilayah tersebut akan semakin banyak
penduduknya, baik penduduk asli maupun pendatang. Masalah juga semakin
kompleks, dari segi sosial budaya maupun pertahanan wilayah itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Agus
Sudarsono dan Raras G. Rosardi.2015.Kajian
Wilayah.Yogyakarta: FIS,UNY
Rustiadi,
Renan, dkk. 2011. Perencanaan dan
Pengembangan Wilayah. Jakarta : Yayasan
Pustaka Obor Indonesia.
Tarigan,
Robinson. 2006. Perencanaan Pembangunan
Wilayah. Jakarta : PT Bumi Aksara.
http://irtusss.blogspot.com/2011/02/konsepsi-wilayah-atau-region.html (diunduh pada tanggal 14 April 2015 pukul
17:57)
kajian khusus tata ruang air bisa di share kan tks
BalasHapustata ruang air suatu kawasan
BalasHapus