Senin, 22 Juni 2015

ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL

ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL


  1.  Budi Utomo (BU)
Budi Utomo pada mulanya lahir sebagai akibat politik etis yang didalamnya terkandung usaha memajukan pengajaran. Pada dekade pertama abad XX, anak –anak Indonesia masih mengalami hambatan dana belajar. Keadaan ini menimbulkan keprihatinan Dr. Wahidin Sudirohusodo untuk dapat menghimpun dana pada tahun 1906-1907. Ide dari Dr. Wahidin diterima baik dan dikembangkan oleh Sutomo, seorang mahasiswa School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten (STOVIA), dari sinilah awal perkembangan menuju keharmonisan bagi tanah orang Jawa dan Madura. Akhirnya, Sutomo dan rekan-rekannya mendirikan BU di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908.
Corak baru yang diperkenalkan BU adalah kesadaran lokal yang diformulasikan dalam wadah organisasi modern dalam arti bahwa organisasi itu mempunyai pimpinan, ideologi yang jelas dan anggota.
Pancaran etnonasionalisme makin membesar dan hal ini dibuktikan dalam kongres BU yang diselenggarakan pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Dalam waktu singkat dalam BU terjadi perubahan orientasi. Kalau semula orientasinya terbatas pada kalangan priyayi maka menurut edaran yang dimuat dalam Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 23 Juli 1908, BU cabang Jakarta mulai menekankan cara baru bagaimana memperbaiki kehidupan rakyat. Di dalam kongres itu terdapat dua prinsip perjuangan, yang pertama mewakili golongan muda cenderung menempuh jalan perjuangan politik dalam menghadapi pemerintahan kolonial, sedangkan yang kedua diwakili oleh golongan tua yang ingin tetap pada cara lama yaitu perjuangan sosio-kultural. Bagi golongan muda perjuangannya itu sangat tepat guna memberikan imbangan politik pemerintahan.
Pada dekade ketiga abad XX kondisi sosio-politik makin matang dan BU mulai mencari orientasi politik yang mantap dan mencari massa yang lebih luas. Kebijakan politik yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial, khususnya tekanan terhadap pergerakan nasional maka BU mulai kehilangan wibawa, terjadilah perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam BU. Pengaruh BU makin berkurang dan pada tahun 1935 organisasi bergabung dengan organisasi lain menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak saat itu BU terus mundur dari arena politik dan kembali ke keadaan sebelumnya. Namun demikian, dengan segala kekurangan BU telah mewakili aspirasi pertama dari rakyat Jawa ke arah kebangkitan dan juga aspirasi rakyat Indonesia. Hampir semua pimpinan terkemuka gerakan-gerakan nasionalis Indonesia pada permulaan abad XX kurang lebih telah mempunyai kontak dengan organisasi ini (Nagazumi,1986: 9)
BU pada fase awal selalu menyesuaikan diri dengan keadaan pada saat itu, sehingga gerakan kultural lebih mewarnai kegiatan BU. Dalam perjalanannya, BU dengan fleksibelitasnya itu mulai menggeser orientasinya dari kultur menuju politik. Edukasi barat dianggap penting dan dipakai sebagai jalan untuk menempuh jenjang sosial yang lebih tinggi. Meskipun demikian BU juga tidak cepat-cepat mengubah ke haluan politik semata dan ini memang dikuatkan oleh Dwijosewoyo bahwa “tenang dan lunak adalah sifat BU”.
BU bukan hanya dikenal sebagai salah satu organisasi nasional yang pertama di Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu organisasi terpanjang usianya sampai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia. BU merupakan salah satu faktor penyebab perubahan-perubahan politik sehingga terjadinya integrasi nasional, maka wajarlah kalau kelahiran BU tanggal 20 Mei disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Lahirnya BU menampilkan fase pertama dari nasionalisme dan proses penyandaran diri terhadap identitas bangsa Jawa.

2. Trikoro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia)
Organisasi pemuda ini didirikan sebagai wujud rasa ketidakpuasan terhadap gerak langkah organisasi Boedi Oetomo yang cenderung konservatif dan kurang menampung aspirasi pemuda. Sehingga pada tanggal 07 Maret 1915 sejumlah pemuda berkumpul di Gedung Boedi Oetomo Gedung Stovia Jakarta dan mereka berhasil mendirikan sebuah perkumpulan Trikoro Dharmo ini. Organisasi ini diketuai oleh Satiman Wiryosanjoyo dan Soenardi, yang kemudian terkenal sebagai Mr. Wongsonegoro. Dan sekretaris oleh Soetomo dengan dibantu anggota pengurus lainnya seperti Muslich, Musodo dan Abdul Rachman. Adapun tujuan dari organisasi ini menurut pasal 2 anggaran dasarnya adalah
1.      Menjalin pertalian antara murid-murid bumi putera pada sekolah menengah, dan kursus perguruan kejuruan dan sekolah vak,
2.      Menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya,
3.      Membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan “Hindia” (Indonesia).
Pada tahun 1917 organisasi Trikoro Dharmo ini sempat mengalami pergantian pemimpin dari Satiman Wiryosanjoyo ke Sutardiaryodirejo.  Kongres pertama berhasil dilaksanakan di Solo pada tanggal 12 Juni 1918 dengan mengangkat Satiman sebagai ketua kehormatan. Dalam kongres ini pula berhasil diambil keputusan penting yaitu tentang ruang lingkup keanggotaan dan nama organisasi serta mengenai kepengurusan.
Nama Trikoro Dharmo diganti menjadi Jong Java dengan tujuan membangun persatuan Jawa Raya. Dalam kongres ini pula terpilihlah Sukiman Wiryosanjoyo sebagai ketua Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda.
Jong Java kembali menggelar kongresnya yang terakhir di Semarang pada tanggal 23 Desember 1929 setelah berhasil mengadakan sepuluh kali kongres. Dalam kongres-kongresnya itu ada beberapa hal penting yang berhasil diputuskan yaitu:
1.      Seorang wanita diperbolehkan duduk dalam kepengurusan besar dan anggota redaksi dari Jong Java sebagai wujud lanjutan emansipasi Kartini.
2.      Diperbolehkannya penggunaan bahasa-bahasa daerah dengan maksud untuk menghormati perbedaan antar suku yang ada.
3.      Adanya cita-cita untuk membangun Jawa Raya dengan jalan membina persatuan diantara golongan-golongan di Jawa dan Madura untuk mencapai kemakmuran bersama.

3. Jong Sumatranen Bond
Organisasi ini muncul karena terinspirasi dari adanya Jong Java di Jakarta, bedanya Jong Sumatranen Bond berada di Sumatra. Organisasi ini didirikan pada tanggal 9 Desember 1917 oleh sekitar 150 orang pemuda Sumatra yang sedang belajar di Jakarta. Adapun tujuan dalam anggaran dasarnya adalah (1) mempererat ikatan antara pemuda-pemuda pelajar Sumatra dan membangkitkan perasaan bahwa mereka dipanggil untuk menjadi pemimpin dan pendidik dari bangsanya dan (2) membangkitkan perhatian anggota-anggotanya dan orang luar untuk menghargai adat-istiadat, seni, bahasa, kerajinan, pertanian, dan sejarah Sumatra. Dalam waktu singkat organisasi ini sudah mempunyai cabang-cabang di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Serang, Sukabumi, Padang, Bukittinggi dan Purworejo. Kongres pertamanya dilakukan di Padang pada bulan Juni tahun 1919.

      4. Jong Islamieten Bond
Organisasi ini didirikan pada tanggal 1 Januari 1925 oleh Raden Sam bersama sejumlah temannya dan diketuai oleh Raden Sam sendiri. Sementara itu dipilihlah H. Agus Salim sebagai penasihatnya. Belum genap satu tahun organisasi ini telah memiliki anggota sekitar 1000 orang yang tersebar di tujuh cabang yaitu di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Solo, Madiun, dan Surabaya. Jong Islamieten Bond berhasil mengadakan tiga kali kongres yakni pada tanggal 29 Desember 1925 di Yogyakarta, pada tanggal 24-26 Desember 1926 di Surakarta, dan pada tanggal 23-27 Desember 1927 di Yogyakarta.   

5. Sarekat Islam (SI)
SI didirikan pada tahun 1912 oleh H. Samanhudi, seorang pengusaha batik di kampung Lawean, Solo. Tujuan utama SI adalah menghidupkan kegiatan ekonomi pedagang islam Jawa yang diikat dengan agama sekaligus mengembangkan perekonomian, hal inilah yang selalu ditekankan oleh Umar Said Cokrominoto salah satu pemimpin SI yang terkemuka.
Usaha meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa sendiri diterima dengan antusias oleh masyarakat lapisan bawah. Wong cilik mendapat kesempatan untuk memperbaiki kehidupan yang sudah lama dinanti-nantikan. Tidak salah kiranya jika SI mampu membaca keinginan wong cilik yang menginginkan perbaikan upah kerja, sewa-menyewa tanah, masalah-masalah yang berlaku ditanah partikelir dan juga tingkah laku yang menyakitkan hati yang dilakukan para mandor dan kepala-kepala pribumi . maka tidak mengherankan kalau SI menjadi populer dikalangan rakyat bawah. Dalam waktu kurang dari satu tahun SI sudah tumbuh menjadi organisasi raksasa. Karena itu pemerintah Hindia Belanda harus mencermati jejak SI yang dianggap membahayakan itu karena ia mampu memobilisasi massa.
Dalam kongres SI tahun 1914 di Yogyakarta Cokrominoto terpilih sebagai pimpinan SI. Gejala konflik internal telah timbul dipermukaan dan kepercayaan terhadap SI mulai berkurang. Namun Cokrominoto tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari SI harus di kutuk. Karena perpecahan harus dihindarkan, persatuan harus dijaga karena islam sebagai unsur penyatu.
Pada tahun 1916 dibulan Juni di Bandung diadakan konggres pertama yang dihadiri oleh 80 SI lokal yang meliputi 360.000 orang anggota. Kongres itu merupakan “Konggres Nasional” karena SI mencita-citakan supaya penduduk Indonesia menjadi satu natie atau satu bangsa dengan kata lain mempersatukan etnik Indonesia menjadi bangsa Indonesia. Keanggotaan SI terus bertambah dan meningkat, hal ini terbukti dalam konggres tahun 1918 ketiga di Surabaya, anggotanya mencapai 450.000 yang berasal dari 87 SI lokal.
Di dalam kongres SI keempat tahun 1919, SI memperhatikan gerakan buruh atau Serikat Sekerja (SS), karena SS akan memperkuat kedudukan partai politik dalam menghadapi pemerintahan kolonial. Kemudian terbentuklah persatuan SS yang beranggotakan SS Pegadaian dan SS Pegewai Pabrik Gula, dan SS Pegawai Kereta Api. Pada kongres kelima pada tahun 1921, Semaun melancarkan kritik terhadap kebijakan SI pusat sehingga timbul perpecahan. Di satu pihak aliran yang mendambakan aliran ekonomi dogmatis diwakili Semaun dan aliran nasional keagamaan yang diwakili oleh Cokrominoto. Kemungkinan dipersatukannya dua aliran itu ialah dengan memformulasikan satu perjuangan SI menentang kapitalisme sebagai sebab utama timbulnya penjajahan. Jadi, yang perlu ditentang adalah penjajahan yang disebabkan oleh tindakan kapitalis.
Dalam kongres selanjutnya disetujui adanya disiplin partai. Sebagai akibat dilaksanakannya disiplin partai maka Semaun dikeluarkan dari SI karena berlakunya ketentuan bahwa tidak diperbolehkannya merangkap dengan anggota partai lain. Dengan demikian terdapat dua aliran SI yaitu, (1) yang beasaskan kebangsaan-keagamaan berpusat di Yogyakarta dan (2) yang berasaskan komunis yang berpusat di Semarang.
Kongres SI ketujuh yang diselenggarakan pada tahun 1923 di Madiun memutuskan bahwa Sentral Sarekat Islam diganti menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Selanjutnya ditetapkan berlakunya disiplin partai. Di pihak lain, cabang-cabang SI yang mendapat pengaruh komunis menyatakan dirinya bernaung dalam Sarekat rakyat yang merupakan bangunan bawah Partai Komunis Indonesia.
Asas perjuangan PSI ialah nonkoperasi, artinya organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, tetapi organisasi mengijinkan anggotanya duduk dalam Dewan Rakyat atas nama diri sendiri. Kongres PSI tahun 1927 menegaskan asas perjuangan bahwa tujuannya dinyatakan kemerdekaaan nasional berdasarkan agama islam. Karena tujuan dinyatakan dengan tegas tentang kemerdekaan nasional, maka PSI menggabungkan diri dalam Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Nama PSI ditambah dengan Indonesia untuk menunjukkan tujuan perjuangan kebangsaanya dan kemudian namanya menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1927.

6. Indische Partij (IP)
Indische Partij adalah organisasi campuran yang menginginkan kerjasama orang Indonesia dan Bumiputra. Organisasi yang didirikan oleh E.F.E Douwes Dekker (DD) alias Setyabudi di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 dan merupakan organisasi campuran orang Indo dan Bumiputra. IP menjadi organisasi politik yang kuat pada waktu itu setelah ia bekerja sama dengan Dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantoro, yang kemudian mereka dikenal dengan sebutan “Tiga Serangkai”.
Menurut Douwes Dekker, hanya dengan melalui kesatuan aksi melawan kolonial dapat mengubah sistem yang berlaku. Keadilan bagi semua suku bangsa merupakan keharusan dalam pemerintahan. Pada waktu itu terdapat sintesis antara “penjajah” dan “terjajah”, “penguasa” dan “yang dikuasai”. Selanjutnya ia berpendapat bahwa setiap gerakan politik yang sehat harus mempunyai prinsip bahwa ideologi partai politik haruslah kemerdekaan yang menjadi tujuan akhir. Pendapat itu kemudian disalurkan lewat majalah Het Tijdschrift dan surat kabar De Express.
Douwe Dekker melakukan propaganda  ke seluruh Jawa, seperti Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Surabaya, Semarang, Tegal, Pekalongan, dan Cirebon. Ia disambut hangat oleh Pengurus BU. Mereka diajak untuk membangkitkan semangat golongan Indier guna membangkitkan kekuatan politik untuk menentang penjajah. Konsep kebangsaan Indiers disebarluaskan oleh Douwes Dekker karena ia berpendapat bahwa Indie dalam koloni Nederlandsch-Indie harus disadarkan dan dibebaskan dari belenggu penjajahan. Dari anggaran dasar IP dapat disimpulkan, tujaun IP adalah” untuk membangun patriotisme Bangsa Hindia kepada tanah air yang telah memberi lapangan hidup, dan menganjurkan kerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan guna memajukan tanah air Hindia dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka”. Ini berarti bahwa secara tidak langsung IP menolak kehadiran orang totok sebagai penguasa dan sekaligus melahirkan perasaan kebangsaan yang pertama karena mengakui Indonesia sebagai tanah airnya. Jelas bahwa IP berdiri atas dasar nasionalisme yang menampung semua suku bangsa di Hindia yang diajak menuju kemerdekaan Indonesia. Paham kebangsaaan ini, setelah melalui perjalanan panjang diolah dalam Perhimpunan Indonesia (1924) badan Partai Nasional Indonesia (1927) (Abdurrachman Surjomihardjo, 1979:73).
Sikap dan tindakan IP yang radikal menuntut kemerdekaan menyebabkan pemerintah kolonial bersikap keras terhadap IP. Permohonan IP untuk mendapatkan badan hukum sia-sia belaka dan organisasi itu dinyatakan sebagai partai terlarang sejak tanggal 4 Maret 1913. Usia IP sangat pendek yang tidak lebih dari enam bulan. Walaupun demikian, para pemimpin masih sangat berpengaruh pada pergerakan saat itu.
Surat edaran Suwardi Suryaningrat yang berjudul Als ik een Nederlander was adalah kritik pedas terhadap pemerintah dan pada kesempatan ini pemerintah membalas dengan membuang “Tiga Serangkai”. Pembuangan “Tiga Serangkai” mempuyai dampak luas, bukan saja dampaknya ada di koloni tetapi juga ada di negara induk. Di Belanda terjadi perdebatan politik di Dewan Perwakilan Rakyat tentang pergerakan rakyat Indonesia. Di Indonesia makin menjadi kebutuhan untuk memperjuangkan hak-hak Bumiputra. Aksi Komite Bumiputra menghidupkan tumbuhnya kesadaran dan perlunya persatuan untuk mencapai perubahan ketatanegaraan. Perlu diketahui pula bahwa pergerakan Indonesia dikenal di luar negeri melalui tulisan-tulisan penulis sosialis Belanda yang pada waktu itu menaruh perhatian yang besar sekali terhadap pergerakan rakyat Indonesia.

      7. Muhammadiyah
Sudah diketahui bahwa dalam SI agama islam menjadi lambang persatuan rakyat, jadi bukan merupakan pergerakan semata-mata. Berbeda dengan muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912, organisasi ini bertumpu cita-cita agama. Sebagai aliran modernis islam organisasi ini ingin memperbaiki agama dan umat islam di Indonesia. Agama islam sudah tidak utuh dan murni karena pemeluknya terkukuh dalam kebiasaan uang menyimpang dari asalnya, yaitu kitab suci Alquran. Keadaan seperti ini tidak menumbuhkan simpati para pemeluknya, lebih-lebih dikalangan muda yang sudah mendapatkan pendidikan barat, bahkan sebaliknya. Agama dan umat islam dianggap sebagai penghambat kemajuan bangsa (Alvian, 1989: 8-9). Agama islam harus dibersihkan dari campuran yang bukan keislaman, seperti perbuatan musyrik, bid’ah dan lain-lain.
Dorongan dari luar yang melahirkan organisasi modernis islam itu ialah politik kolonial sendiri terhadap perkembangan agama islam yang menginginkan agar agama islam tetap tidak murni dan utuh. Karena itu kembalinya ke agama yang murni dan utuh mengakhawatirkan pemerintah karena pemereintah tidak dapat mencampuri dan mengawasi perkembangan organisasi sesuai dengan kepentingan pemrintah.
Berbeda dengan BU yang menekankan perjuangan sosiokultural dengan muhamadiyah menekankan perjuangan sosio relegius. Segi-segi pembangunan masyarkat pada organisasi yang terakhir itu menjadi perhatian utama karena pada dasarnya kehidupan sosio masyrakat masih sangat terbelakang. Untuk memajukannnya diperlukan perbaikan yang mencakup bidang keagamaan, pendidikan dan kemasyarakatan.
Diatas sudah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pembahruan di bidang keagamaan adalah memurnukan dan mengembalikan sesuai dengan aslinya sebagai mana yanga diperintahkan Alloh dalam Al-quran yang diturunkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bidang pendidikan ditempuhnya melaului cara baru yang lebih nyata. Pendidikan mempunyai fungsi penting karena dengan pendidikan pemahaman tentang islam mudah diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Perbaikan pendidikan mencakup perbaikan dan pembentukan manusia muslim yang berbudi, alim, luas pengetahuannya dan paham maslah ilmu keduniaan dan kemasyarakatan. Sistem pendidikan dibangun dengan cara sendiri, menggabungkan cara moder dan tradisional. Model sekolah barat ditambah pelajaran agama yang dilakukan secara kelas akan banyak mendapatkan hasil dalam proses belajar mengajar. Bidang kemasyarakatan yang ditempuhnya ialah dengan mendirikan rumah sakit, polikilinik, rumah yatim piatu. Usaha dibidang sosial ini ditandai dengan berdirinya Pertolongan Kesengsaraan Umum (PKU) pada tahun 1923 dan ini merupkan untuk kepedulian sosial dan toling-menolong sesama muslim.
      8. Nahdatul Ulama
Awal penyebarannya agama islam mempunyai pusat-pusat penyebaran dikota dan didesa. Ditempat ini agama islam berkembang sidaerah sekitarnya. Para tamatan pesantren mendirikan pesantren-pesantren baru ditempat lain atau ditempat asal santri. Dengan demikian penyebaran agama islam terus meluas. Pada umumnya pesantren-pesantren yang berpusat dipedesaan menjadi pusat pengajaran agama islam yang sudah tua sekali, sebelum datangnya pengaruh baru. Pusat pengembangan islam yang ada dikota-kota biasanya datang kemudian menjadi ousat pembaharuan islam. Dapat dikatakan bahwa pusat agama islam dan pengikutnya dipedesaan adalah para ulama dan santri tradisionalis dan mereka yang tinggal diperkotan adalah pengikut modernis. Sebagai wadah gerakan islam tradisonalis sebenarnya sudah ada sejak lama.
Sehubungan dengan semakin meluasnya gerakan islam baru dikota-kota seperti yang dilakukan oileh SI dan Muhammadiyah maka hal ini berarti mengurangi ruang gerak umat islam dipedesaan. Untuk menampung dan memberi wadah dipedesaan perlu dibentuk organisasi secara resmi pula mengikat anggotanya untuk mencapai tujuan tertentu. Kebetulan pada waktu itu di Hijaz akan diselenggarakan Konggres Islam sedunia (1926) dan untuk menghadiri konggres ini berarti dikirim delegasi oleh lembaganya hingga terbentuknya delegasi Hijaz. Para ulama terkemuka membahas pemberian nama lembaga itu dan akhirnya lahir Jamiatul Nahdatul Ulama pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya.
NU adalah organisasi sosial keagamaan atau jam’iyyah diniyah islamiah yang didirikan oleh para ulama pemegang teguh salah satu dari mazdab, berhaluan akhlu sunnah waljam’ah, yang bertujuan tidak saja mengembangkan dan mengamalkan ajaran islam tetapi juga memperhatikan masalah sosial , ekonomi, dsb. Dalam rangka pengabdian kepada umuat manusia (Chirul Anam,1985;16)
Pada dasarnya NU tidak mencampuri urusan politik dab konggresnya pada bulan Oktopber 1928 di Surabaya diambil keputusan untuk menentang reformasi kaum modernis dan perubahan-perubahan yang dilakukan wahabi di Hijaz. Kaum islam reformis dalam beberapa hal bersikap seperti kaum nasioanalis yang tidak mengkaitkan soal agama, misalnya tentang masalah perkawinan, keluarga, kedudukan wanita, dll. Pusat-pusat NU ada di Surabaya, Kediri, Bojonegoro, Bondowoso, Kudus dan sekitarnya. Pada tahun 1935 terdapat 68 cabang dengan anggota 6700 (Pringgodigdo : 132).
Dibawah kongres NU di Menes, Banten pada tahun 1938 jelas bahwa NU berusaha meluaskan pengaruhnya keseluruh Jawa. Dalam kongres tahun 1940 di Surabaya diputuskan berdirinyas bagian wanita Nahdatul Ulama Muslimat dan bagian pemuda Ansor, sudah beberapa tahun sebelumnya dibentuk. Ansor didirikan berdasarkan agama islam dan karenanya berhaluan internasioanal.
Selama sepuluh tahun setelah berdirinya, NU menunjukkan kegiatan sendiri, terutama dalam menghadapi aliran Wahabi yang dianggapnya merapuhkan faham Ahulsunnah Waljam’ah. Namun karena terdesak kebutuhan untuk mengadakan persatuan umat islam maka pada tahun 1937 NU begabung dalam MIAI. Hal ini dapat dimengerti bahwa kerja sama kolektif akan lebih menguntungkan dalam menghadapi tantangan dari luar khususnya ancaman Jerpang yang mulai bergerak ke selatan. Nahdatul Ulama atau kebangkitan ulama ternyata bukan saja gabungan ulama ortodoks tetapi juga ulama modern.

DAFTAR PUSTAKA

Budi Utomo, Cahyo.1995.Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia: Dari Kebangkitan hingga Kemerdekaan.Semarang: IKIP Semarang Press
Suhartono.1994.Sejarah Pergerakan Nasional Dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar