ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL
- Budi Utomo (BU)
Budi
Utomo pada mulanya lahir
sebagai
akibat politik etis yang didalamnya terkandung usaha memajukan pengajaran. Pada
dekade pertama abad XX, anak –anak Indonesia masih mengalami hambatan dana
belajar. Keadaan ini menimbulkan keprihatinan Dr. Wahidin Sudirohusodo untuk dapat
menghimpun dana pada tahun 1906-1907. Ide dari Dr. Wahidin diterima baik dan
dikembangkan oleh Sutomo, seorang mahasiswa School
tot Opleiding voor Inlandsche Arsten (STOVIA), dari sinilah awal
perkembangan menuju keharmonisan
bagi
tanah orang Jawa dan Madura. Akhirnya, Sutomo dan rekan-rekannya mendirikan BU
di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908.
Corak
baru yang diperkenalkan BU adalah kesadaran lokal yang diformulasikan dalam
wadah organisasi modern dalam arti bahwa organisasi itu mempunyai pimpinan, ideologi
yang jelas dan anggota.
Pancaran
etnonasionalisme makin membesar dan hal ini dibuktikan dalam kongres BU yang
diselenggarakan pada tanggal
3-5
Oktober 1908. Dalam waktu singkat dalam BU terjadi perubahan orientasi. Kalau
semula orientasinya terbatas pada kalangan priyayi maka menurut edaran yang
dimuat dalam Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 23 Juli 1908, BU cabang Jakarta
mulai menekankan cara baru bagaimana memperbaiki kehidupan rakyat. Di dalam
kongres itu terdapat dua prinsip perjuangan, yang pertama mewakili golongan
muda cenderung menempuh jalan perjuangan politik dalam menghadapi pemerintahan kolonial,
sedangkan yang kedua diwakili
oleh golongan tua yang ingin tetap pada cara lama yaitu perjuangan sosio-kultural. Bagi
golongan muda perjuangannya itu sangat tepat guna memberikan imbangan politik
pemerintahan.
Pada
dekade ketiga abad XX kondisi sosio-politik makin matang dan BU mulai mencari orientasi
politik yang mantap dan mencari massa yang lebih luas. Kebijakan politik yang
dilakukan oleh pemerintahan kolonial, khususnya tekanan terhadap pergerakan
nasional maka BU mulai kehilangan wibawa, terjadilah perpisahan kelompok
moderat dan radikal dalam BU.
Pengaruh
BU makin berkurang dan pada tahun 1935 organisasi bergabung dengan organisasi
lain menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak saat itu BU terus mundur
dari arena politik dan kembali ke keadaan sebelumnya. Namun demikian, dengan
segala kekurangan BU telah mewakili aspirasi pertama dari rakyat Jawa ke arah
kebangkitan dan juga aspirasi rakyat Indonesia. Hampir semua pimpinan terkemuka
gerakan-gerakan nasionalis Indonesia pada permulaan abad
XX kurang lebih
telah mempunyai kontak dengan organisasi ini (Nagazumi,1986: 9)
BU
pada fase awal selalu menyesuaikan diri dengan keadaan pada saat itu, sehingga
gerakan kultural lebih mewarnai kegiatan BU. Dalam perjalanannya, BU dengan
fleksibelitasnya itu mulai menggeser orientasinya dari kultur menuju politik.
Edukasi barat dianggap penting dan dipakai sebagai jalan untuk menempuh jenjang
sosial yang lebih tinggi. Meskipun demikian BU juga tidak cepat-cepat mengubah
ke haluan politik semata dan ini memang dikuatkan oleh Dwijosewoyo bahwa
“tenang dan lunak adalah sifat BU”.
BU
bukan hanya dikenal sebagai salah satu organisasi nasional yang pertama di
Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu organisasi terpanjang usianya sampai dengan
proklamasi kemerdekaan Indonesia. BU merupakan salah satu faktor penyebab
perubahan-perubahan politik sehingga terjadinya integrasi nasional, maka
wajarlah kalau kelahiran BU tanggal 20 Mei disebut sebagai Hari Kebangkitan
Nasional. Lahirnya BU menampilkan fase pertama dari nasionalisme dan proses
penyandaran diri terhadap identitas bangsa Jawa.
Organisasi pemuda ini didirikan sebagai wujud rasa
ketidakpuasan terhadap gerak langkah organisasi Boedi Oetomo yang cenderung
konservatif dan kurang menampung aspirasi pemuda. Sehingga pada tanggal 07
Maret 1915 sejumlah pemuda berkumpul di Gedung Boedi Oetomo Gedung Stovia
Jakarta dan mereka berhasil mendirikan sebuah perkumpulan Trikoro Dharmo ini.
Organisasi ini diketuai oleh Satiman Wiryosanjoyo dan Soenardi, yang kemudian
terkenal sebagai Mr. Wongsonegoro. Dan sekretaris oleh Soetomo dengan dibantu
anggota pengurus lainnya seperti Muslich, Musodo dan Abdul Rachman. Adapun tujuan
dari organisasi ini menurut pasal 2 anggaran dasarnya adalah
1.
Menjalin
pertalian antara murid-murid bumi putera pada sekolah menengah, dan kursus
perguruan kejuruan dan sekolah vak,
2.
Menambah
pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya,
3.
Membangkitkan
dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan “Hindia”
(Indonesia).
Pada tahun 1917 organisasi Trikoro Dharmo ini sempat
mengalami pergantian pemimpin dari Satiman Wiryosanjoyo ke
Sutardiaryodirejo. Kongres pertama
berhasil dilaksanakan di Solo pada tanggal 12 Juni 1918 dengan mengangkat
Satiman sebagai ketua kehormatan. Dalam kongres ini pula berhasil diambil
keputusan penting yaitu tentang ruang lingkup keanggotaan dan nama organisasi
serta mengenai kepengurusan.
Nama Trikoro Dharmo diganti menjadi Jong Java dengan
tujuan membangun persatuan Jawa Raya. Dalam kongres ini pula terpilihlah
Sukiman Wiryosanjoyo sebagai ketua Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda.
Jong Java kembali menggelar kongresnya yang terakhir
di Semarang pada tanggal 23 Desember 1929 setelah berhasil mengadakan sepuluh
kali kongres. Dalam kongres-kongresnya itu ada beberapa hal penting yang
berhasil diputuskan yaitu:
1.
Seorang wanita
diperbolehkan duduk dalam kepengurusan besar dan anggota redaksi dari Jong Java
sebagai wujud lanjutan emansipasi Kartini.
2.
Diperbolehkannya
penggunaan bahasa-bahasa daerah dengan maksud untuk menghormati perbedaan antar
suku yang ada.
3.
Adanya cita-cita
untuk membangun Jawa Raya dengan jalan membina persatuan diantara
golongan-golongan di Jawa dan Madura untuk mencapai kemakmuran bersama.
Organisasi ini muncul karena terinspirasi dari adanya
Jong Java di Jakarta, bedanya Jong Sumatranen Bond berada di Sumatra.
Organisasi ini didirikan pada tanggal 9 Desember 1917 oleh sekitar 150 orang
pemuda Sumatra yang sedang belajar di Jakarta. Adapun tujuan dalam anggaran
dasarnya adalah (1) mempererat ikatan antara pemuda-pemuda pelajar Sumatra dan
membangkitkan perasaan bahwa mereka dipanggil untuk menjadi pemimpin dan
pendidik dari bangsanya dan (2) membangkitkan perhatian anggota-anggotanya dan
orang luar untuk menghargai adat-istiadat, seni, bahasa, kerajinan, pertanian,
dan sejarah Sumatra. Dalam waktu singkat organisasi ini sudah mempunyai
cabang-cabang di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Serang, Sukabumi,
Padang, Bukittinggi dan Purworejo. Kongres pertamanya dilakukan di Padang pada
bulan Juni tahun 1919.
4. Jong Islamieten
Bond
Organisasi ini didirikan pada tanggal 1 Januari 1925
oleh Raden Sam bersama sejumlah temannya dan diketuai oleh Raden Sam sendiri.
Sementara itu dipilihlah H. Agus Salim sebagai penasihatnya. Belum genap satu
tahun organisasi ini telah memiliki anggota sekitar 1000 orang yang tersebar di
tujuh cabang yaitu di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Solo, Madiun, dan
Surabaya. Jong Islamieten Bond berhasil mengadakan tiga kali kongres yakni pada
tanggal 29 Desember 1925 di Yogyakarta, pada tanggal 24-26 Desember 1926 di
Surakarta, dan pada tanggal 23-27 Desember 1927 di Yogyakarta.
SI
didirikan pada tahun 1912 oleh H. Samanhudi, seorang pengusaha batik di kampung
Lawean, Solo. Tujuan utama SI adalah menghidupkan kegiatan ekonomi pedagang
islam Jawa yang diikat dengan agama sekaligus mengembangkan perekonomian, hal
inilah yang selalu ditekankan oleh Umar Said Cokrominoto salah satu pemimpin SI
yang terkemuka.
Usaha
meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa sendiri diterima dengan antusias oleh
masyarakat lapisan bawah. Wong cilik mendapat kesempatan untuk memperbaiki
kehidupan yang sudah lama dinanti-nantikan. Tidak salah kiranya jika SI mampu
membaca keinginan wong cilik yang menginginkan perbaikan upah kerja,
sewa-menyewa tanah, masalah-masalah yang berlaku ditanah partikelir dan juga
tingkah laku yang menyakitkan hati yang dilakukan para mandor dan kepala-kepala
pribumi . maka tidak mengherankan kalau SI menjadi populer dikalangan rakyat
bawah. Dalam waktu kurang dari satu tahun SI sudah tumbuh menjadi organisasi
raksasa. Karena itu pemerintah Hindia Belanda harus mencermati jejak SI yang dianggap
membahayakan itu karena ia mampu memobilisasi massa.
Dalam
kongres SI tahun 1914 di Yogyakarta Cokrominoto terpilih sebagai pimpinan SI.
Gejala konflik internal telah timbul dipermukaan dan kepercayaan terhadap SI
mulai berkurang. Namun Cokrominoto tetap mempertahankan keutuhan dengan
mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari SI harus di kutuk.
Karena perpecahan harus dihindarkan, persatuan harus dijaga karena islam sebagai
unsur penyatu.
Pada
tahun 1916 dibulan Juni di Bandung
diadakan konggres pertama yang dihadiri oleh 80 SI lokal yang meliputi 360.000
orang anggota. Kongres itu merupakan “Konggres Nasional” karena SI
mencita-citakan supaya penduduk Indonesia menjadi satu natie atau satu bangsa dengan kata lain mempersatukan etnik Indonesia menjadi
bangsa Indonesia. Keanggotaan SI terus bertambah dan meningkat, hal ini
terbukti dalam konggres tahun 1918 ketiga di Surabaya, anggotanya mencapai
450.000 yang berasal dari 87 SI lokal.
Di
dalam kongres SI keempat tahun 1919, SI memperhatikan gerakan buruh atau Serikat Sekerja
(SS), karena SS akan memperkuat kedudukan partai politik dalam menghadapi
pemerintahan kolonial. Kemudian terbentuklah persatuan SS yang beranggotakan SS
Pegadaian dan SS Pegewai Pabrik Gula, dan SS Pegawai Kereta Api. Pada kongres kelima pada
tahun 1921, Semaun melancarkan
kritik terhadap kebijakan
SI pusat sehingga timbul perpecahan. Di satu pihak aliran yang mendambakan
aliran ekonomi dogmatis diwakili Semaun dan aliran nasional keagamaan yang
diwakili oleh Cokrominoto. Kemungkinan dipersatukannya dua aliran itu ialah
dengan memformulasikan
satu perjuangan SI menentang
kapitalisme sebagai sebab utama timbulnya
penjajahan.
Jadi, yang perlu ditentang adalah penjajahan yang disebabkan oleh tindakan
kapitalis.
Dalam
kongres selanjutnya disetujui adanya disiplin
partai. Sebagai akibat dilaksanakannya
disiplin partai maka Semaun dikeluarkan dari SI karena berlakunya ketentuan bahwa
tidak diperbolehkannya merangkap dengan anggota partai lain. Dengan demikian
terdapat dua aliran SI yaitu, (1) yang beasaskan
kebangsaan-keagamaan berpusat di Yogyakarta
dan (2) yang berasaskan
komunis yang berpusat di Semarang.
Kongres
SI ketujuh yang diselenggarakan
pada tahun 1923 di Madiun memutuskan bahwa Sentral Sarekat Islam diganti
menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Selanjutnya ditetapkan berlakunya disiplin
partai. Di pihak lain, cabang-cabang SI yang mendapat pengaruh komunis
menyatakan dirinya bernaung dalam Sarekat rakyat yang merupakan bangunan bawah
Partai Komunis Indonesia.
Asas perjuangan PSI ialah nonkoperasi,
artinya organisasi tidak mau bekerja sama
dengan pemerintah kolonial, tetapi organisasi mengijinkan anggotanya duduk
dalam Dewan Rakyat atas nama diri sendiri. Kongres PSI tahun 1927 menegaskan asas perjuangan bahwa
tujuannya dinyatakan kemerdekaaan nasional berdasarkan agama islam. Karena tujuan
dinyatakan dengan tegas tentang kemerdekaan nasional, maka PSI menggabungkan
diri dalam Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Nama PSI ditambah dengan
Indonesia untuk menunjukkan tujuan perjuangan
kebangsaanya dan kemudian namanya menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII)
pada tahun 1927.
6. Indische
Partij (IP)
Indische
Partij adalah organisasi campuran yang menginginkan kerjasama orang Indonesia dan Bumiputra.
Organisasi yang didirikan oleh E.F.E Douwes Dekker (DD) alias Setyabudi di
Bandung pada tanggal 25 Desember 1912 dan merupakan organisasi campuran orang
Indo dan Bumiputra. IP menjadi organisasi politik yang kuat pada waktu itu setelah
ia bekerja sama dengan Dr.
Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar
Dewantoro, yang kemudian mereka dikenal dengan sebutan “Tiga Serangkai”.
Menurut
Douwes Dekker, hanya dengan melalui
kesatuan aksi melawan kolonial dapat mengubah sistem yang berlaku. Keadilan
bagi semua suku bangsa merupakan keharusan dalam pemerintahan. Pada waktu itu terdapat
sintesis antara “penjajah” dan “terjajah”, “penguasa” dan “yang dikuasai”.
Selanjutnya ia berpendapat bahwa setiap gerakan
politik yang sehat harus mempunyai prinsip bahwa ideologi partai politik
haruslah kemerdekaan yang menjadi tujuan akhir. Pendapat itu kemudian
disalurkan lewat majalah Het Tijdschrift
dan surat kabar De Express.
Douwe Dekker melakukan
propaganda ke seluruh Jawa, seperti
Yogyakarta, Surakarta, Madiun,
Surabaya, Semarang, Tegal,
Pekalongan, dan Cirebon. Ia disambut
hangat oleh Pengurus BU. Mereka diajak untuk membangkitkan semangat golongan Indier guna membangkitkan kekuatan politik untuk menentang penjajah. Konsep
kebangsaan Indiers disebarluaskan oleh Douwes
Dekker karena ia berpendapat bahwa Indie dalam koloni Nederlandsch-Indie harus disadarkan dan dibebaskan dari belenggu
penjajahan. Dari anggaran dasar IP dapat disimpulkan, tujaun IP adalah” untuk
membangun patriotisme Bangsa Hindia kepada tanah air yang telah memberi
lapangan hidup, dan menganjurkan kerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan
guna memajukan tanah air Hindia dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang
merdeka”. Ini berarti bahwa
secara
tidak langsung IP menolak kehadiran orang
totok sebagai penguasa dan sekaligus melahirkan perasaan kebangsaan yang
pertama karena mengakui Indonesia sebagai tanah airnya. Jelas bahwa IP berdiri
atas dasar nasionalisme yang
menampung semua suku bangsa di Hindia yang diajak menuju kemerdekaan Indonesia.
Paham kebangsaaan ini, setelah
melalui perjalanan panjang diolah dalam
Perhimpunan Indonesia (1924) badan
Partai Nasional Indonesia (1927) (Abdurrachman Surjomihardjo, 1979:73).
Sikap
dan tindakan IP yang radikal menuntut kemerdekaan menyebabkan pemerintah
kolonial bersikap keras terhadap IP. Permohonan IP untuk mendapatkan badan
hukum sia-sia belaka dan organisasi itu dinyatakan sebagai partai terlarang
sejak tanggal 4 Maret 1913. Usia IP sangat pendek yang tidak lebih dari enam bulan.
Walaupun demikian, para pemimpin masih sangat berpengaruh pada pergerakan saat
itu.
Surat
edaran Suwardi Suryaningrat yang berjudul Als
ik een Nederlander was adalah kritik pedas terhadap pemerintah dan pada
kesempatan ini pemerintah membalas dengan membuang “Tiga Serangkai”. Pembuangan
“Tiga Serangkai” mempuyai dampak luas, bukan saja dampaknya ada di koloni
tetapi juga ada di negara induk. Di Belanda terjadi perdebatan politik di Dewan
Perwakilan Rakyat tentang pergerakan rakyat Indonesia. Di Indonesia makin menjadi
kebutuhan untuk memperjuangkan hak-hak Bumiputra.
Aksi Komite Bumiputra menghidupkan tumbuhnya kesadaran dan perlunya persatuan
untuk mencapai perubahan ketatanegaraan. Perlu diketahui pula bahwa pergerakan
Indonesia dikenal di luar negeri melalui tulisan-tulisan penulis sosialis
Belanda yang pada waktu itu menaruh perhatian yang besar sekali terhadap
pergerakan rakyat Indonesia.
7. Muhammadiyah
Sudah diketahui bahwa
dalam SI agama islam menjadi lambang persatuan rakyat, jadi bukan merupakan pergerakan semata-mata.
Berbeda dengan muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta
pada tanggal 18 November 1912, organisasi ini bertumpu cita-cita agama. Sebagai
aliran modernis islam organisasi ini
ingin
memperbaiki agama dan umat islam di Indonesia. Agama islam sudah tidak utuh dan
murni karena pemeluknya terkukuh dalam kebiasaan uang menyimpang dari asalnya,
yaitu kitab suci Alquran. Keadaan seperti ini tidak menumbuhkan simpati para
pemeluknya, lebih-lebih dikalangan muda yang sudah mendapatkan pendidikan
barat, bahkan sebaliknya. Agama dan umat islam dianggap sebagai penghambat
kemajuan bangsa (Alvian, 1989: 8-9). Agama islam harus dibersihkan dari
campuran yang bukan keislaman, seperti perbuatan musyrik, bid’ah dan lain-lain.
Dorongan dari luar yang
melahirkan organisasi modernis islam itu ialah politik kolonial sendiri
terhadap perkembangan agama islam yang menginginkan agar agama islam tetap tidak
murni dan utuh. Karena itu kembalinya ke agama yang murni dan utuh
mengakhawatirkan pemerintah karena pemereintah tidak dapat mencampuri dan
mengawasi perkembangan organisasi sesuai dengan kepentingan pemrintah.
Berbeda dengan BU yang
menekankan perjuangan sosiokultural dengan muhamadiyah menekankan perjuangan
sosio relegius. Segi-segi pembangunan masyarkat pada organisasi yang terakhir
itu menjadi perhatian utama karena pada dasarnya kehidupan sosio masyrakat
masih sangat terbelakang. Untuk memajukannnya diperlukan perbaikan yang
mencakup bidang keagamaan, pendidikan dan kemasyarakatan.
Diatas sudah disebutkan
bahwa yang dimaksud dengan pembahruan di bidang keagamaan adalah memurnukan dan
mengembalikan sesuai dengan aslinya sebagai mana yanga diperintahkan Alloh
dalam Al-quran yang diturunkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bidang pendidikan
ditempuhnya melaului cara baru yang lebih nyata. Pendidikan mempunyai fungsi
penting karena dengan pendidikan pemahaman tentang islam mudah diwariskan
kepada generasi selanjutnya.
Perbaikan pendidikan
mencakup perbaikan dan pembentukan manusia muslim yang berbudi, alim, luas
pengetahuannya dan paham maslah ilmu keduniaan dan kemasyarakatan. Sistem
pendidikan dibangun dengan cara sendiri, menggabungkan cara moder dan tradisional.
Model sekolah barat ditambah pelajaran agama yang dilakukan secara kelas akan
banyak mendapatkan hasil dalam proses belajar mengajar. Bidang kemasyarakatan
yang ditempuhnya ialah dengan mendirikan rumah sakit, polikilinik, rumah yatim
piatu. Usaha dibidang sosial ini ditandai dengan berdirinya Pertolongan
Kesengsaraan Umum (PKU) pada tahun 1923 dan ini merupkan untuk kepedulian
sosial dan toling-menolong sesama muslim.
8. Nahdatul
Ulama
Awal penyebarannya
agama islam mempunyai pusat-pusat penyebaran dikota dan didesa. Ditempat ini
agama islam berkembang sidaerah sekitarnya. Para tamatan pesantren mendirikan
pesantren-pesantren baru ditempat lain atau ditempat asal santri. Dengan
demikian penyebaran agama islam terus meluas. Pada umumnya pesantren-pesantren yang
berpusat dipedesaan menjadi pusat pengajaran agama islam yang sudah tua sekali,
sebelum datangnya pengaruh baru. Pusat pengembangan islam yang ada dikota-kota
biasanya datang kemudian menjadi ousat pembaharuan islam. Dapat dikatakan bahwa
pusat agama islam dan pengikutnya dipedesaan adalah para ulama dan santri
tradisionalis dan mereka yang tinggal diperkotan adalah pengikut modernis.
Sebagai wadah gerakan islam tradisonalis sebenarnya sudah ada sejak lama.
Sehubungan dengan
semakin meluasnya gerakan islam baru dikota-kota seperti yang dilakukan oileh
SI dan Muhammadiyah maka hal ini berarti mengurangi ruang gerak umat islam
dipedesaan. Untuk menampung dan memberi wadah dipedesaan perlu dibentuk
organisasi secara resmi pula mengikat anggotanya untuk mencapai tujuan
tertentu. Kebetulan pada waktu itu di Hijaz akan diselenggarakan Konggres Islam
sedunia (1926) dan untuk menghadiri konggres ini berarti dikirim delegasi oleh
lembaganya hingga terbentuknya delegasi Hijaz. Para ulama terkemuka membahas
pemberian nama lembaga itu dan akhirnya lahir Jamiatul Nahdatul Ulama pada
tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya.
NU adalah organisasi
sosial keagamaan atau jam’iyyah diniyah islamiah yang didirikan oleh para ulama
pemegang teguh salah satu dari mazdab, berhaluan akhlu sunnah waljam’ah, yang
bertujuan tidak saja mengembangkan dan mengamalkan ajaran islam tetapi juga
memperhatikan masalah sosial , ekonomi, dsb. Dalam rangka pengabdian kepada
umuat manusia (Chirul Anam,1985;16)
Pada dasarnya NU tidak
mencampuri urusan politik dab konggresnya pada bulan Oktopber 1928 di Surabaya
diambil keputusan untuk menentang reformasi kaum modernis dan
perubahan-perubahan yang dilakukan wahabi di Hijaz. Kaum islam reformis dalam
beberapa hal bersikap seperti kaum nasioanalis yang tidak mengkaitkan soal
agama, misalnya tentang masalah perkawinan, keluarga, kedudukan wanita, dll.
Pusat-pusat NU ada di Surabaya, Kediri, Bojonegoro, Bondowoso, Kudus dan
sekitarnya. Pada tahun 1935 terdapat 68 cabang dengan anggota 6700
(Pringgodigdo : 132).
Dibawah kongres NU di Menes, Banten pada tahun
1938 jelas bahwa NU berusaha meluaskan pengaruhnya keseluruh Jawa. Dalam kongres
tahun 1940 di Surabaya diputuskan berdirinyas bagian wanita Nahdatul Ulama
Muslimat dan bagian pemuda Ansor, sudah beberapa tahun sebelumnya dibentuk.
Ansor didirikan berdasarkan agama islam dan karenanya berhaluan internasioanal.
Selama sepuluh tahun
setelah berdirinya, NU menunjukkan kegiatan sendiri, terutama dalam menghadapi
aliran Wahabi yang dianggapnya merapuhkan faham Ahulsunnah Waljam’ah. Namun
karena terdesak kebutuhan untuk mengadakan persatuan umat islam maka pada tahun
1937 NU begabung dalam MIAI. Hal ini dapat dimengerti bahwa kerja sama kolektif
akan lebih menguntungkan dalam menghadapi tantangan dari luar khususnya ancaman
Jerpang yang mulai bergerak ke selatan. Nahdatul Ulama atau kebangkitan ulama
ternyata bukan saja gabungan ulama ortodoks tetapi juga ulama modern.
DAFTAR PUSTAKA
Budi Utomo,
Cahyo.1995.Dinamika Pergerakan Kebangsaan
Indonesia: Dari Kebangkitan hingga Kemerdekaan.Semarang: IKIP Semarang
Press
Suhartono.1994.Sejarah Pergerakan Nasional Dari Budi Utomo
sampai Proklamasi 1908-1945.Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar